Nahdlatul Wathan (NW) merupakan organisasi yang berfokus pada pendidikan, sosial dan dakwah. Nahdlatul Wathan memiliki makna kebangkitan tanah air. Artinya NW berkomitmen untuk untuk menciptkan negara yang adil dan makmur Melalui tiga fokus pergerakan nya. TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Sebagai pendiri Nahdlatul Wathan merupakan ulama satu perguruan dengan ulama-ulama pendiri organisasi Islam besar lainnya.
Di dalam tubuh NW, terdapat badan otonom (Banom) yang berfungsi menggerakkan roda organisasi NW di berbagai tingkatan. Di antaranya adalah organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan (IPNW), sebuah organisasi yang bersifatat keterpelajaran, kekaderan, kebangsaan, dan kemasyarakatan. IPNW sebagai pondasi awal dan pusat embrio memahami ke-NW-an, sudah semestinya belajar menerapkan komitmen Apa saja yang dikedepankan NW semenjak dini mungkin.
Kaderisasi adalah Oksigen IPNW
Selayaknya IPNU yang ada di NU, IPNW Diharapkan menjadi ladang percetakan kader-kader NW muda yang bisa melanjutkan perjalanan organisasi. IPNU sendiri memiliki jenjang pengkaderan yang sudah jelas dan bagus. Dalam IPNW sendiri jenjang kaderisasi masih menjadi barang tabu, Konsep kaderisasi yang sudah di jalankan 5 tahun terkahir seperti MAKA 1, 2, 3 masih mengalami stagnan, kaderisasi hanya bejalan di tingkatan komisariat. Jika jenjang kaderisasi bisa berjalan dengan konsep yang bagus akan memberikan dampak yang signifikan terhadap output dari IPNW yang siap melanjutkan perjuangan organisasi induk.
Maka seharusnya perlu kaderisasi di IPNW segera dibenahi. IPNW harus menjadi tangga pertama yang diharapkan untuk membentuk segala kerangka NW itu dengan menantangkan aqidah, amaliah, dan Ke-NW-an.
Memasuki panggung NW semenjak dini tidak lain kita beranjak dari kesadaran kultural menjadi kesadaran struktural, dari jamaah ke jamiyah, dari individu menjadi kolektif.
Intinya ber-IPNW itu mengidentitaskan diri semenjak dini, memperluas jejaring kekuatan sesama warga NW, menempa kedewasaan dalam mengembangkan talenta, belajar mengorganisir potensi, memetakan jejaring warga NW, membiasakan dalam melakukan khidmah bagi masyarakat sampai pada menentukan keberpihakan pada nasib dan keadaan yang dialami oleh warga NW.
Membentuk seseorang yang punya loyalitas dan keterampilan dalam memimpin serta kedewasaan ketika dipimpin tidak turun begitu saja dari langit, tapi butuh ikhtiar, ketelatenan kedispilinan yang mesti dilaluinya dalam satu tarikan nafas yang panjang. Mau apa kalangan muda NW yang notabane-nya palajar, pemuda desa, mahasiswa maupun santri jika ber-NW hanya karna kebesaran, Karena ikut-ikutan, glorifikasi tanpa mau membesarkan tanpa mau menggelorakan?
Melihat kaderisasi di IPNW, menjadi wajar kalau kualitas kader kita tidak terdidik-terorganisir-terpimpin. Kita sering menjalankan kaderisasi sebagai ikhwal seremonial, seketika itu juga kita memutus unsur-unsur maju dan produktif didalam organisasi. Apabila ini terjadi, akan sangat memungkinkan kalau sistem dan keberhasilan pengkaderan kita hanya menghasilkan kader-kader reaksioner tanpa prespektif, melakukan kerja-kerja pengorganisiran secara serampangan, senang mengklaim dan sebatas menjadi kepanjangan tangan dari suatu kepentingan. Mereka terbentuk karena siklus yang rapuh serta tidak ditempa dengan baik, sedikit pendekatan keilmuan sebagai dasar, minim pandangan maju yang mengkreasikan potensi produktif menjadi suatu kekuatan.
Kita pantas untuk mengingat wasiat renungan masa TGKH Zainuddin Abdul Madjid yang berbunyi Buka madrasah dusun dan dasan, agar tersebar ajaran tuhan, IKATAN PELAJAR PG aktifkan himmah pemuda terus tonjolkan, wasiat tersebut memberikan isyarat bahwa Maulana Syaikh memiliki harapan besar terhadap semua generasi muda NW bisa berkontribusi melaului IPNW.
Saya melihat banyak kalangan pelajar NW Tidak mau ber-IPNW karena IPNW isinya kalangan bawah, apalagi karna IPNW tidak punya daya Jual? Atau karena alasan yang ditumpuk sebab ber-IPNW itu buang-buang waktu? Bahkan yang lebih parahnya, malas ber-IPNW karena minim relasi elit yang bisa menopang karir?
Atau tidak ber-IPNW karena minder? Karena watak kita sudah terbentuk eksklusif Zaman Now yang katanya mesti trendy, mengikuti pasar model, Justru dengan kita terus berdekatan dengan lebih banyak orang, kita akan tahu akar permasalahan yang sebenarnya, kita akan ditempa kesabaran dan ketelatenan bagaimana bisa kaum muda NW itu terdidik, terpimpin dan terorganisir.
Ber-IPNW itu akan memberi kepahaman bahwa banyak kompleksnya persoalan warga NW. Dari yang berada di bawah garis kemiskinan, keterbelakangan yang banyak , sampai krisis aqidah dan ideologi juga banyak dari kalangan NW.
Ber-IPNW itu mendekatkan kita pada ulama, menyelaraskan khidmah kita semenjak dini. Kita ditempa dengan pengetahuan, membangun akses dan jaringan sesama orang NW dari berbagai latar belakang. Kita mengetahui akar dan identitas, mana yang kita perjuangkan dan untuk apa kita memperjuangkanya.
Sumber: NU batang.or.id

